ELM45
Kamis, 13 September 2012
Senin, 19 Desember 2011
PROPOSAL PTK
BAB. I
PENDAHULUAN
Pelajaran Matematika pada umumnya dianggap sebagai pelajaran yang sulit dipahami, karena pelajaran matematika banyak mengandung symbol-simbol yang abtrak, sedangkan siswa SD masih berpikir konkrit yaaitu berdasar pada hal hal nyata dapat dilihat. dirasa dan diraba.
Dalam proses pembelajaran Guru sering memaksakan materi pelajaran walaupun sebenarnya siswa kurang memahami dan menyenangi pelajaran tersebut. Kekurang-mampuan guru dalam mengkondisikan kelas dan pengelolaan kelas pada saat proses pembelajaran disara kurang menyenangkan. Oleh karenanya mungkin hal ini menjadi salah-satu penyebab siswa malas belajar. khususnya pada mata pelajaran Matematika.
Pada pembelajaran matematika, guru masih melakukan proses belajar dengan menerapkan pendekatan pembelajaran konvensiponal dan methode utama. Guru memulai pembelajaran, langsung pada pemaparan materi, pemberian contoh dan mengevaluasi siswa melalui latihan soal. Siswa menerima pelajaran secara pasif , menghafal rumus – rumus tanpa memahami makna dan manfaat dari apa yang dipelajarinya.
Setiap ulangan formatif pelajaran Matematika siswa kelas V di SD kami selalu mendapat nilai rata-rata 43 sehingga pencapaiaan target nilai KKM mata pelajaran matematika masih dibawah KKM yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum sekolah kami, walaupun untuk mata pelajaran matematika hanya mampu ditetapkan nilai sebesar 65 sedangkan nilai KKM idial yang dituntut berdasarkan permendiknas adalah minimal mencapai nilai 75. hal ini tentunya menjadi masalah yang perlu diidentifikasi, dianalisis dan dirumskan akar permasalahnya. kemudian harus mendapat perhatian untuk dijadikan kajian dan pelnelitian.
Untuk memudahkan pemahaman tentang konsep Matematika, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan sehingga siswa termotifasi dan menyenangi pelajaran tersebut segagai berikut : - Agar minat siswa tertarik terhadap pelajaran matematika, perlu diciptakan suasana senang dalam belajar, dengan cara memasukkan materi pelajaran dalam suatu simulasi yang dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari. melalui kerja kelompok, mengajarkan konsep baru dengan konsep yang telah dipahami, memperluas dan memperdalam konsep untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan kemampuan siswa. -
Demi menuju penalaran deduktif dan kajian objek abstrak dapat melalui penalaran induktif yang menggunakan benda-benda konkret untuk memanipulasi objek abstrak dalam pembelajaran diajarkan sesuai dengan taraf berpikir dan kemampuan siswa. - Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran -
Untuk mewujudkan proses pembelajaran matematika yang lebih bermakna dengan hasil prestasi siswa yang tinggi ,guru harus kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran .Kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar siswa, siswa dengan guru, media dan sumber belajar lainnya. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada siswa.
Untuk itu, supaya hasil belajar siswa ada peningkatan terutama pada mata pelajaran matematika, salah satunya adalah adanya kesesuaian, ketepatan dalam menggunakan pendekatan dan metode pada saat guru melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu dengan pendekatan kontekstual bermetode simulasi, diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika di kelas V SD.
B. Identifikasi Masalah
Berdasar uraian tersebut, pengidendifokasian masalahnya adalah sebagai berikut:
C. Pembatasan Masalah
Berdasar rumusan masalah tersebut, pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Materi yang diajarkan adalah operasi hitung soal cerita pada pelajaran Matematika kelas V
2. Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan Kontektual bermetode simulasi
D. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dari hal tersebut “ Apakah Penggunaan Pendekatan Kontektual Bermetode Simulasi dapat meningkatkan Kemampuan siswa dalam Menyelesaikan soal cerita Matematika kelas V SDN 2 Sindangmekar.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan Peneliannya adalah sebagai berikut
Sebagai penelitian tindakan kelas, yang semoga dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kulitas proses pembelajaran matematika, dan peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa pada pelajaran matematika serta mutu pendidikan. Ada dua kata gori manfaat hasil penelitian yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Penelitianini diharapkan dapat dikontri busikan untuk strategi pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan kuantitas dan kualitas hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Semoga dapat mem berikan dampak fositif dalam pembelajaran matematika yaitu pening katan kulitas proses pembela jaran matematika melalui Penggunaan Pendekatan Kontektual Bermetode Simulasi.
2. Manfaat Fraktis
a. Bagi Guru
1) Meningkatkan keterampilan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) dalam proses pembelajaran.
2) Meningkatkan motivasi dan hasil belajar bagi siswa.
3) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
4) Menentukan tindak lanjut hasil belajar yang akan bermakna bagi siswa.
5) Meningkatkan kerja sama yang baik antara siswa, guru dengan pihak terkait.
6) Menentukan bentuk tindakan dalam proses pembelajaran guna meningkatkan minat dan hasil belajar
siswa.
7) Memotivasi guru untuk melakukan penelitian dari masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
b. Bagi Siswa
- Meningkatkan hasil belajar
- Meningkatkan minat dan motifasi belajar
- Meningkatkan makna pembelajaran yang berarti
A. Kajian Teoritik
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (surved). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relatif bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini, nampak (immediate behaVor) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behaVor). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).
Kreativitas belajar. daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang siswa asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya. Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran,
Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kreativitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong oleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kreatif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal
2. Pengertian Pendekatan Kontektual ( CTL )
a. Adanya kerjasama dalam satu tim kerja merupakan sebuah kunci untuk meraih Kesuksesan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan di masa mendatang Pada pembelajaran CTL guru tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta tetapi guru hendaknya mendorong siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui CTL siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghapal’.Dalam pembelajaran kontektual, guru perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki siswa dan mengaitkan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsepsi awal ini dapat direkam dari pekerjaan siswa dari jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan guru yang disampaikan pada awal pembelajaran. Dalam pembelajaran biasanya siswa malu atau takut bertanya kepada gurunya dan bertanya kepada teman-temanya.
b. Menurut realita yang terjadi di sekolah, pada umumnya pembelajaran yang dilaksanakan berorientasi pada target penguasaan sejumlah materi. Peserta didik hanya dijejali dengan menghapal sejumlah fakta atau informasi yang disampaikan oleh guru. Dengan kegiatan tersebut siswa terbukti hanya mengingat dalam waktu yang pendek, siswa tidak mampu memecahkan persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
c. Untuk mengatasi persoalan tersebut di atas, Nurhadi, (1: 2001) yang menyatakan bahwa dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak belajar lebih baik jika diciptakan suasana belajar secara alamiah. Maksudnya, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya bukan sekedar mengetahuinya. maka pendekatan kontekstual menjadi salah satu alternatif yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa yang senantiasa bekerja dan mengalami sendiri. Siswa tidak hanya mentransfer pengetahuan yang datang dari guru. Siswa akan sadar bahwa yang dia pelajari akan berguna bagi kehidupannya nanti. Dengan kata lain, siswa akan mamposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Sebab mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Melalui penerapan pendekatan ini strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
d. Dalam pendekatan kontekstual (CTL) tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan cara menemukan sendiri bukan diperoleh dari guru. Guru hanya mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dan baru, dan memfasilitasi belajar..e. Menurut Nurhadi (2001:1) yang dimaksud dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yaitu, “ Konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunua nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
f. CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari siswa belajar lebih bermakna dengan kerja dan menemukan sendiri, mengkonstruksi sendiri keterampilan barunya (filosofi) .
3.Pebedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan konvensiponal
menurut Nurhadi (2001: 7-8) antara lain: No. Pendekatan Kontekstual Pendekatan konvensiponal
1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran Siswa adalah penerima informasi secara pasif 2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi Siswa belajar secara individual 3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis 4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan 5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan 6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasaan diri Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor 7. Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan tarjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat,menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajarn 8. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final 9. Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa 10. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, koteks, dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas 11. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek Sanki adalah hukuman dari perilaku jelek 3. Ciri Pendekatan Kontektual Strategi pengajaran yang berasosiasi CTL menurut Nurhadi (2001: 1) diantaranya: - CBSA - Pendekatan Proses - Life Skill Education - Authentic instruction - Inqury-Based Learnin - Problem-Based Learning Cooperatif-Learning - Service Learning B. Kerangka Berpikir Dalam pendekatan kontekstual (CTL) tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan cara menemukan sendiri bukan diperoleh dari guru. Guru hanya mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dan baru, dan memfasilitasi belajar. Guru melupakan tradisi lama yakni guru akting di panggung siswa menonton, ubah menjadi siswa aktif bekerja dan belajar di panggung guru mengarahkan dan member motifasi. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif dalam pembelajarannya. 1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, 2. menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. . 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). 5. Lakukan refleksi diakhir pertemuan. Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual terdapat beberapa kata yang dijadikan sebagai kata-kata kunci diantaranya. 1. Real Worl Learning 2. Mengutamakan pengalaman nyata 3. Berpikir tingkat tinggi 4. Berpusat pada siswa 5. Siswa aktif, kritis, dan kreatif 6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan 7. Dekat dengan kehidupan nyata 8. Perubahan perilaku 9. Siswa praktek, bukan menghafal 10. Learning bukan Teaching 11. Pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction) 12. Pembentukan manusia 13. Memecahkan masalah 14. Siswa acting, guru mengarahkan 15. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Pendekatan Kontektual bermetode Simulasi sebagai mana yang dipaparkan berikut ini : 1. Perkalian dan pembagian merupakan materi yang saling berpasangan.Materi tersebut termasuk materi esensial yang cukup lama proses penanamannya. Bahkan, kalau sudah disajikan dalam soal cerita, seringkali para siswa mengalami kesulitan. Bagaimana guru dapat membelajarkan siswanya dengan tampilan yang berbeda dan menarik. 1. Siapkan sudut pasar di dalam kelas (dus susu, korek api, sabun, dll) dengan jumlah tiap benda minimal 12 bungkus. Beri label harga untuk tiap benda 2 Minta anak mengambil 2 benda yangberbeda dengan jumlah lebih dari 1.Misal: sabun mandi 5 bungkus @ Rp1.800, pasta gigi 2 bungkus @ Rp 4.200 Secara berkelompok siswa menghitung harga barang yang terambil. 5 x Rp 1.800 = Rp 9.000 2 x Rp 4.200 = Rp 8.400 Untuk pembagiannya, kegiatan anak selanjutnya menumpuk sabun 5 bungkus tadi dan memberi harga Rp 9.000 kemudian menghitung harga satuannya. Lanjutkan dengan kegiatan yang sama untuk benda yang berbeda.Satu hal yang menarik dalam kegiatan yang dilakukan ini adalah bahwa guru tidak hanya meminta anak menjadi reseptor (penerima pasif) dari soal cerita. guru justru menghendaki siswanya menjadi kreator (pencipta aktif) soal cerita. Guru meminta siswa membuat soal cerita yang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya. Mereka diminta untuk membuat soal sesulit mungkin dan berharap agar teman yang diberi soalnya tidak dapat menjawabnya dengan mudah. Namun demikian, setiap siswa harus membuat kunci jawab dari soal yang dijawabnya. guru selanjutnya meminta para siswa mendiskusikan jawabannya dengan kunci yang dibuat temannya. Jika ada perselisihan tentang jawaban dan prosesnya, mereka bisa mempertanyakannya kepada guru 2. Guru menghendaki siswa mampu mengaitkan matematika yang dipelajari anak di sekolah dengan kehidupan keseharian mereka. Karena itu, pada suatu hari dia bertanya kepada siswanya “berapa banyak nasi yang kamu habiskan dalam sehari?”. Jawaban siswa ternyata macam-macam. Ada yang mengatakan 1 kg, ½ kg, 5 ons, dan ada juga yang menjawab 2 kg.Dengan jawaban yang bervariasi tersebut, akhirnya guru menyuruh para siswanya untuk membuat daftar bahan makanan yang mereka makan setiap hari, misalnya: beras, gula, tepung, telur,mentega, dan lain sebagainya. Selanjutnya, para siswa diminta untuk membuat dugaan kira-kira berapa banyak yang dihabiskan mereka dalam seharinya. Dugaan tersebut ditulis pada secarik kertas di buku siswa.Untuk melihat tingkat keakuratan jawaban anak, guru meminta kepada para siswanya melakukan dua hal. Pertama, mereka harus bertanya kepada orang tua masing masing apa saja yang mereka makan setiap harinya. Kedua, pada pertemuan berikutnya, mereka membawa bahan makanan tersebut ke sekolah sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Pada pertemuan berikutnya, para siswa menimbang bahan yang sudah dibawa ke kelas dan mencatatnya. Mereka kemudian membandingkan hasil timbangan tersebut dengan dugaan mereka. Para siswa banyak yang tertawa setelah mengetahui ternyata banyak di antara dugaan mereka yang melebihi kenyataan yang sebenarnya. Dugaan bahwa dalam sehari mereka memerlukan 2 kg beras untuk mereka makan, ternyata jauh lebih banyak dari yang mereka perkirakan. Ini membantu mereka memiliki kepekaan terhadap ukuran. Pada gilirannya nanti (mungkin setelah dewasa), kepekaan ini bisa digunakan untuk merancang hidupnya secara lebih efektif dan efisien.guru tidak berhenti di situ saja. Guru melanjutkan pembelajaran dengan meminta anak untuk menghitung berapa banyak bahan-bahan tersebut dihabiskan dalam waktu 1 bulan, atau 1 tahun, dan hasilnya kemudian diubah ke dalam satuan berat yang lain,misalnya kwintal atau ton. C. HIPOTESIS TINDAKAN Berdasarkan karakterisik pendekatan komntektual bermetode simulasi yang dirancang serta didukung penunjang dan fasilitas yang di persiapkan, maka di tetapkan hipotesis tindakan sebagai berikut:”Diharapkan pendekatan komntektual bermetode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep operasi hitung soal cerita pada pelajaran matematika kelas V SD ?"
Setiap ulangan formatif pelajaran Matematika siswa kelas V di SD kami selalu mendapat nilai rata-rata 43 sehingga pencapaiaan target nilai KKM mata pelajaran matematika masih dibawah KKM yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum sekolah kami, walaupun untuk mata pelajaran matematika hanya mampu ditetapkan nilai sebesar 65 sedangkan nilai KKM idial yang dituntut berdasarkan permendiknas adalah minimal mencapai nilai 75. hal ini tentunya menjadi masalah yang perlu diidentifikasi, dianalisis dan dirumskan akar permasalahnya. kemudian harus mendapat perhatian untuk dijadikan kajian dan pelnelitian.
Untuk memudahkan pemahaman tentang konsep Matematika, tentunya banyak hal yang dapat dilakukan sehingga siswa termotifasi dan menyenangi pelajaran tersebut segagai berikut : - Agar minat siswa tertarik terhadap pelajaran matematika, perlu diciptakan suasana senang dalam belajar, dengan cara memasukkan materi pelajaran dalam suatu simulasi yang dikaitkan dengan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari. melalui kerja kelompok, mengajarkan konsep baru dengan konsep yang telah dipahami, memperluas dan memperdalam konsep untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan kemampuan siswa. -
Demi menuju penalaran deduktif dan kajian objek abstrak dapat melalui penalaran induktif yang menggunakan benda-benda konkret untuk memanipulasi objek abstrak dalam pembelajaran diajarkan sesuai dengan taraf berpikir dan kemampuan siswa. - Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran -
Untuk mewujudkan proses pembelajaran matematika yang lebih bermakna dengan hasil prestasi siswa yang tinggi ,guru harus kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran .Kegiatan pembelajaran dirancang sedemikian rupa untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar siswa, siswa dengan guru, media dan sumber belajar lainnya. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada siswa.
Untuk itu, supaya hasil belajar siswa ada peningkatan terutama pada mata pelajaran matematika, salah satunya adalah adanya kesesuaian, ketepatan dalam menggunakan pendekatan dan metode pada saat guru melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu dengan pendekatan kontekstual bermetode simulasi, diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika di kelas V SD.
B. Identifikasi Masalah
Berdasar uraian tersebut, pengidendifokasian masalahnya adalah sebagai berikut:
- Bagaimana supaya pelajaran matematika tidak lagi dianggap sebagai mata pembelajaran yang sulit difahami ?
- Bagaimana supaya dalam proses pembelajaran Guru tidak lagi memaksakan materi pelajaran walau siswa kurang memahami dan menyenangi pelajaran tersebut ?
- Bagaimana supaya kinerja guru dalam mengkondisikan kelas dan pengelolaan kelas pada saat proses pembelajaran disara oleh siswa suasananya kurang menyenangkan ?
- Bagaimana supaya kinerja guru pada pembelajaran matematika, masih melakukan proses belajar dengan menerapkan pendekatan pembelajaran konvensiponal dan methode utama ?
- Bagaimana supaya guru tidak memulai proses pembelajaran ,langsung pada pemaparan materi, pemberian contoh dan mengevaluasi siswa melalui latihan soal ?
- Bagaimana supaya setiap ulangan formatif pelajaran Matematik siswa kelas V di SD kami selalu mendapat nilai rata-rata 43 sehingga pencapaiaan target nilai KKM mata pelaja ran matematika masih dibawah KKM yang telah ditetapkan berdasarkan kurikulum sekolah kami ?
C. Pembatasan Masalah
Berdasar rumusan masalah tersebut, pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Materi yang diajarkan adalah operasi hitung soal cerita pada pelajaran Matematika kelas V
2. Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan Kontektual bermetode simulasi
D. Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dari hal tersebut “ Apakah Penggunaan Pendekatan Kontektual Bermetode Simulasi dapat meningkatkan Kemampuan siswa dalam Menyelesaikan soal cerita Matematika kelas V SDN 2 Sindangmekar.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan Peneliannya adalah sebagai berikut
- Untuk memperoleh peningksatan hasil belajar iswa dalam proses pembelajaran pada soal cerita tentang oerasi hitung dengan menggunakan pendekatan kontektual bermetode simulasi
- Untuk memperoleh peningkatan dalam pelaksanaan proses pembelajaran pada soal cerita tentang operasi hitung dengan menggunakan pendekatan kontektual bermetode simulasi
Sebagai penelitian tindakan kelas, yang semoga dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kulitas proses pembelajaran matematika, dan peningkatan hasil belajar yang diperoleh siswa pada pelajaran matematika serta mutu pendidikan. Ada dua kata gori manfaat hasil penelitian yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Penelitianini diharapkan dapat dikontri busikan untuk strategi pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan kuantitas dan kualitas hasil belajar siswa pada pelajaran matematika. Semoga dapat mem berikan dampak fositif dalam pembelajaran matematika yaitu pening katan kulitas proses pembela jaran matematika melalui Penggunaan Pendekatan Kontektual Bermetode Simulasi.
2. Manfaat Fraktis
a. Bagi Guru
1) Meningkatkan keterampilan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) dalam proses pembelajaran.
2) Meningkatkan motivasi dan hasil belajar bagi siswa.
3) Meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
4) Menentukan tindak lanjut hasil belajar yang akan bermakna bagi siswa.
5) Meningkatkan kerja sama yang baik antara siswa, guru dengan pihak terkait.
6) Menentukan bentuk tindakan dalam proses pembelajaran guna meningkatkan minat dan hasil belajar
siswa.
7) Memotivasi guru untuk melakukan penelitian dari masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
b. Bagi Siswa
- Meningkatkan hasil belajar
- Meningkatkan minat dan motifasi belajar
- Meningkatkan makna pembelajaran yang berarti
BAB. II
KAJIAN TEORITIK, KERANGKA BERFIKIR,
DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Teoritik
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Belajar membantu manusia menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungannya. Dengan adanya proses belajar inilah manusia bertahan hidup (surved). Belajar secara sederhana dikatakan sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu, tejadi dalam jangka waktu waktu tertentu. Perubahan yang itu harus secara relatif bersifat menetap (permanent) dan tidak hanya terjadi pada perilaku yang saat ini, nampak (immediate behaVor) tetapi juga pada perilaku yang mungkin terjadi di masa mendatang (potential behaVor). Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa perubahan-perubahan tersebut terjadi karena pengalaman. Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini membedakan dengan perubahan-perubahan lain yang disebabkan oleh kemasakan (kematangan).
Kreativitas belajar. daya cipta sering digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari, sering pula ditekankan pentingnya pengembangan kreativitas baik pada anak didik, Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya, kombinasi baru, atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsur, data, atau hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas terletak pada kemampuan untuk melihat asosiasi antara hal-hal atau obyek-obyek yang sebelumnya tidak ada atau tidak tampak hubungannya. Seorang siswa asyik bermain dengan balok-balok yang mempunyai bentuk dan warna yang bermacam-macam, setiap kali dapat menyusun sesuatu yang baru, artinya baru bagi dirinya karena sebelumnya ia belum pernah membuat hal yang semacam itu. Anak ini adalah anak yang kreatif, berbeda dengan anak lain yang hanya membangun sesuatu jika ada contohnya. Mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran,
Gordon dalam Joice and Weill (1996) dalam E. Mulyana (2005 : 163) mengemukakan empat prinsip dasar sinektik tentang kreativitas. Pertama, kreativitas merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan sehari-hari. Hampir semua manusia berhubungan dengan proses kreativitas, yang dikembangkan melalui seni atau penemuan-penemuan baru. Lebih jauh Gordon menekankan bahwa kreativitas merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari dan berlangsung sepanjang hayat. Kedua, proses kreatif bukanlah sesuatu yang misterius. Hal tersebut dapat diekspresikan dan mungkin membantu orang secara langsung untuk meningkatkan kreativitasnya. Secara tradisional, kreativitas didorong oleh kesadaran yang memberi petunjuk untuk mendeskripsikan dan menciptakan prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah atau lingkungan lain. Ketiga, penemuan kreatif sama dalam semua bidang, baik dalam bidang seni, ilmu, maupun dalam rekayasa. Selain itu, penemuan kreatif ditandai oleh beberapa proses intelektual. Keempat, berpikir kreatif baik secara individu maupun kelompok adalah sama. Individu dan kelompok menurunkan ide-ide dan produk dalam berbagai hal
2. Pengertian Pendekatan Kontektual ( CTL )
a. Adanya kerjasama dalam satu tim kerja merupakan sebuah kunci untuk meraih Kesuksesan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan di masa mendatang Pada pembelajaran CTL guru tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta tetapi guru hendaknya mendorong siswa untuk mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Melalui CTL siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghapal’.Dalam pembelajaran kontektual, guru perlu memahami konsepsi awal yang dimiliki siswa dan mengaitkan dengan konsep yang akan dipelajari. Konsepsi awal ini dapat direkam dari pekerjaan siswa dari jawaban siswa terhadap pertanyaan-pertanyaan guru yang disampaikan pada awal pembelajaran. Dalam pembelajaran biasanya siswa malu atau takut bertanya kepada gurunya dan bertanya kepada teman-temanya.
b. Menurut realita yang terjadi di sekolah, pada umumnya pembelajaran yang dilaksanakan berorientasi pada target penguasaan sejumlah materi. Peserta didik hanya dijejali dengan menghapal sejumlah fakta atau informasi yang disampaikan oleh guru. Dengan kegiatan tersebut siswa terbukti hanya mengingat dalam waktu yang pendek, siswa tidak mampu memecahkan persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
c. Untuk mengatasi persoalan tersebut di atas, Nurhadi, (1: 2001) yang menyatakan bahwa dewasa ini ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak belajar lebih baik jika diciptakan suasana belajar secara alamiah. Maksudnya, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya bukan sekedar mengetahuinya. maka pendekatan kontekstual menjadi salah satu alternatif yang harus diterapkan dalam proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa yang senantiasa bekerja dan mengalami sendiri. Siswa tidak hanya mentransfer pengetahuan yang datang dari guru. Siswa akan sadar bahwa yang dia pelajari akan berguna bagi kehidupannya nanti. Dengan kata lain, siswa akan mamposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Sebab mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Melalui penerapan pendekatan ini strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
d. Dalam pendekatan kontekstual (CTL) tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan cara menemukan sendiri bukan diperoleh dari guru. Guru hanya mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dan baru, dan memfasilitasi belajar..e. Menurut Nurhadi (2001:1) yang dimaksud dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yaitu, “ Konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunua nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
f. CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari siswa belajar lebih bermakna dengan kerja dan menemukan sendiri, mengkonstruksi sendiri keterampilan barunya (filosofi) .
3.Pebedaan pendekatan kontekstual dengan pendekatan konvensiponal
menurut Nurhadi (2001: 7-8) antara lain: No. Pendekatan Kontekstual Pendekatan konvensiponal
1. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran Siswa adalah penerima informasi secara pasif 2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi Siswa belajar secara individual 3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis 4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan 5. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan 6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasaan diri Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor 7. Siswa menggunakan kemampuan berfikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan tarjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat,menghafal) tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajarn 8. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final 9. Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa 10. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, koteks, dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas 11. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek Sanki adalah hukuman dari perilaku jelek 3. Ciri Pendekatan Kontektual Strategi pengajaran yang berasosiasi CTL menurut Nurhadi (2001: 1) diantaranya: - CBSA - Pendekatan Proses - Life Skill Education - Authentic instruction - Inqury-Based Learnin - Problem-Based Learning Cooperatif-Learning - Service Learning B. Kerangka Berpikir Dalam pendekatan kontekstual (CTL) tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru yakni pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan cara menemukan sendiri bukan diperoleh dari guru. Guru hanya mengatur strategi belajar, membantu menghubungkan pengetahuan lama dan baru, dan memfasilitasi belajar. Guru melupakan tradisi lama yakni guru akting di panggung siswa menonton, ubah menjadi siswa aktif bekerja dan belajar di panggung guru mengarahkan dan member motifasi. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan komponen utama pembelajaran efektif dalam pembelajarannya. 1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, 2. menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. . 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). 5. Lakukan refleksi diakhir pertemuan. Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual terdapat beberapa kata yang dijadikan sebagai kata-kata kunci diantaranya. 1. Real Worl Learning 2. Mengutamakan pengalaman nyata 3. Berpikir tingkat tinggi 4. Berpusat pada siswa 5. Siswa aktif, kritis, dan kreatif 6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan 7. Dekat dengan kehidupan nyata 8. Perubahan perilaku 9. Siswa praktek, bukan menghafal 10. Learning bukan Teaching 11. Pendidikan (education) bukan pengajaran (instruction) 12. Pembentukan manusia 13. Memecahkan masalah 14. Siswa acting, guru mengarahkan 15. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes Proses Pembelajaran dengan Menggunakan Pendekatan Kontektual bermetode Simulasi sebagai mana yang dipaparkan berikut ini : 1. Perkalian dan pembagian merupakan materi yang saling berpasangan.Materi tersebut termasuk materi esensial yang cukup lama proses penanamannya. Bahkan, kalau sudah disajikan dalam soal cerita, seringkali para siswa mengalami kesulitan. Bagaimana guru dapat membelajarkan siswanya dengan tampilan yang berbeda dan menarik. 1. Siapkan sudut pasar di dalam kelas (dus susu, korek api, sabun, dll) dengan jumlah tiap benda minimal 12 bungkus. Beri label harga untuk tiap benda 2 Minta anak mengambil 2 benda yangberbeda dengan jumlah lebih dari 1.Misal: sabun mandi 5 bungkus @ Rp1.800, pasta gigi 2 bungkus @ Rp 4.200 Secara berkelompok siswa menghitung harga barang yang terambil. 5 x Rp 1.800 = Rp 9.000 2 x Rp 4.200 = Rp 8.400 Untuk pembagiannya, kegiatan anak selanjutnya menumpuk sabun 5 bungkus tadi dan memberi harga Rp 9.000 kemudian menghitung harga satuannya. Lanjutkan dengan kegiatan yang sama untuk benda yang berbeda.Satu hal yang menarik dalam kegiatan yang dilakukan ini adalah bahwa guru tidak hanya meminta anak menjadi reseptor (penerima pasif) dari soal cerita. guru justru menghendaki siswanya menjadi kreator (pencipta aktif) soal cerita. Guru meminta siswa membuat soal cerita yang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya. Mereka diminta untuk membuat soal sesulit mungkin dan berharap agar teman yang diberi soalnya tidak dapat menjawabnya dengan mudah. Namun demikian, setiap siswa harus membuat kunci jawab dari soal yang dijawabnya. guru selanjutnya meminta para siswa mendiskusikan jawabannya dengan kunci yang dibuat temannya. Jika ada perselisihan tentang jawaban dan prosesnya, mereka bisa mempertanyakannya kepada guru 2. Guru menghendaki siswa mampu mengaitkan matematika yang dipelajari anak di sekolah dengan kehidupan keseharian mereka. Karena itu, pada suatu hari dia bertanya kepada siswanya “berapa banyak nasi yang kamu habiskan dalam sehari?”. Jawaban siswa ternyata macam-macam. Ada yang mengatakan 1 kg, ½ kg, 5 ons, dan ada juga yang menjawab 2 kg.Dengan jawaban yang bervariasi tersebut, akhirnya guru menyuruh para siswanya untuk membuat daftar bahan makanan yang mereka makan setiap hari, misalnya: beras, gula, tepung, telur,mentega, dan lain sebagainya. Selanjutnya, para siswa diminta untuk membuat dugaan kira-kira berapa banyak yang dihabiskan mereka dalam seharinya. Dugaan tersebut ditulis pada secarik kertas di buku siswa.Untuk melihat tingkat keakuratan jawaban anak, guru meminta kepada para siswanya melakukan dua hal. Pertama, mereka harus bertanya kepada orang tua masing masing apa saja yang mereka makan setiap harinya. Kedua, pada pertemuan berikutnya, mereka membawa bahan makanan tersebut ke sekolah sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Pada pertemuan berikutnya, para siswa menimbang bahan yang sudah dibawa ke kelas dan mencatatnya. Mereka kemudian membandingkan hasil timbangan tersebut dengan dugaan mereka. Para siswa banyak yang tertawa setelah mengetahui ternyata banyak di antara dugaan mereka yang melebihi kenyataan yang sebenarnya. Dugaan bahwa dalam sehari mereka memerlukan 2 kg beras untuk mereka makan, ternyata jauh lebih banyak dari yang mereka perkirakan. Ini membantu mereka memiliki kepekaan terhadap ukuran. Pada gilirannya nanti (mungkin setelah dewasa), kepekaan ini bisa digunakan untuk merancang hidupnya secara lebih efektif dan efisien.guru tidak berhenti di situ saja. Guru melanjutkan pembelajaran dengan meminta anak untuk menghitung berapa banyak bahan-bahan tersebut dihabiskan dalam waktu 1 bulan, atau 1 tahun, dan hasilnya kemudian diubah ke dalam satuan berat yang lain,misalnya kwintal atau ton. C. HIPOTESIS TINDAKAN Berdasarkan karakterisik pendekatan komntektual bermetode simulasi yang dirancang serta didukung penunjang dan fasilitas yang di persiapkan, maka di tetapkan hipotesis tindakan sebagai berikut:”Diharapkan pendekatan komntektual bermetode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep operasi hitung soal cerita pada pelajaran matematika kelas V SD ?"
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan dri tgl 31 Oktober sampai dengan 30
Nopember 2011
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SDN 2 Sindangmekar yang berlokasi
di Jalan Mangga
No. 22 Desa Sindangmekar Kecamatan
Dukupuntang Kabupaten Cirebon.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 2 Sindangmekar berjumlah 57 siswa, terdiri atas 36 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Subjek penelitian ini sangat hiterogen dilihat dari kemampuannya, yakni ada yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang,rendah dan sangat rendah.
B. Desain Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas adalah ekspolrasi untuk menemukan jawaban dari masalah yang menjadi bidang kajian. Adapun yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Dari segi semantik (arti kata) action research diterjemahkan menjadi penelitian tindakan. Carr dan Kemmis (McNiff, J, 1991, p.2) mendefisikan action research sebagai berikut
Action research is a form of self – refflective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (b) their understanding of these practices, and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa ide pokok antara lain :
- Penelitian Tindakan Kelas merupakan satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
- Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
- Penelitian Tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi pendidikan
Dari ketiga ide pokok di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Berdasarkan pengertian tersebut maka Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas ( class action research) model Kurt Levin ( Kusumah, 2009; 20) Konsep PTK menurut Kurt Levin terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan ( planning), tindakan (acting), pengamatan (observating), dan refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut diaanggap sebagai satu siklus. Penelitian ini menggunakan PTK dengan harapan peneliti dapat memperbaiki kinerjanya sebagai guru dan menciptakan pembelajaran bermutu. PTK menggambarkan sebagai suatu proses yang dinamis meliputi aspek perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi yang merupakan langkah berurutan dalam satu siklus atau daur yang berhubungan dengan siklus berikutnya.
Akar pelaksanaan PTK digambarkan dalam bentuk spiral tindakan (adaptasi Hopkins, 1993) sebagai
berikut.
berikut.
C. Rencana Tindakan
1. Studi Pendahuluan
Sebelum melaksanakan langkah – langkah penelkitian, peneliti mengadakan pendahuluan yang bertujuan untuk mengungkapkan masalah penting yang perlu diketahui dan dipecahkan berkaitan dengan kemampuan siswa memahami materi tentang soal cerita yang terkait dengan operasi hitung bilangan. Berdasakan hasil wawancara dan hasil pelaksanaan pembelajaran sebelumnya diperoleh data sebagai berikut.
a. Kemampuan rata - rata siswa pelajaran Matematika kelas V masih rendah, sehingga diperlukan cara agar siswa mampu pemecah kan soal cerita dengan baik.
b. Penjejalan untuk memahami materi pelajaran pada waktu proses pembelajaran terasa dipaksakan walau siswa kuran menyenangi.
c. Kekurang mampuan Guru untuk mengkondisikan kelas supaya proses pembelajaran dapat dirasa menyenangkan bagi siswa.
d. Hasil pembelajaran tidak mencapai target KKM yang telah ditetapkan
2. Perencanaan Pelaksanaan Tndakan
Tahap – tahapan perencanaan tersebut sebagai berikut.
a. Menentukan Waktu dan kelas penelitian
b. Menyusun Rencana Pembelajaran
c. Mennyusunan observasi yang digunakan untuk menga
mati kegiatan pembelajaran berlangsung.
1) Mengidentifikasi masalah
2) Menganalisis dan merumuskan masalah
3) Merancang model Pembelajaran interaktif
4) Mendiskusikan penerapan model pembelajaran interaktif
5) Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir)
6) Menyusun kelompok belajar siswa
7) Merencanakan tugas kelompok
3. Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian, kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan rencana tindakan yang telah direncanakan serta kegiatan observasi. Setiap kegiatan tersebut merupakan suatu siklus yang berulang. Oleh karena itu apabila satu siklus belum berhasil, maka kegiatan penelitian tersebut dijadikan dasar sebagai acuan perbaikan pada siklus berikutnya.
1. Melaksanakan langkah-langkah sesuai perencanaan
2. Menerapkan pendekatan komntektual bermetode simulasi
3. Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah
kegiatan sesuai rencana
4.Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya
kegiatan yang dilaksanakan
5. Mengantisipasi dengan melakukan solusi apabila menemui
kendala saat melakukan tahap tindakan
4. Observasi
Observasi dilakukan secara terus menerus dari siklus pertama sampai kedua yang dilaksanakan selama pelaksanaan tindakan berlangsung.
- Melakukan diskusi dengan guru SD dan kepala Sekolah untuk rencana observasi
- Melakukan pengamatan terhadapMenerapkan pendekatan komntektual bermetode simulasi yang dilakukan guru kelas lima
- Mencatat setiap kegiatan dan perubahan yang terjadi saat Menerapkan pendekatan komntektual bermetode simulasi
- Melakukan diskusi dengan guru untuk membahas Kelamahan kelemahan atau kekurangan yang dilakukan guru serta memberikan saran perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
Refleksi tindakan berdasar hasil tes siswa dan observasi
- Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi
- .Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat Menerapkan pendekatan komntektual
- bermetode simulasi
- Dengankerja kelompok dan mempertimbangkan langkah selanjutnya
- Melakukan refleksi terhadap penerapan dengan kerja kelompok
- Melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam Pembelajaran matematika
- Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa
D. Teknik Pengumpulan data
1. Data Observasi
Selama pelaksanaan tindakan, dilaksanakan observasi terhadap perilaku siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Observasi dilakukan oleh peneliti bersama praktisi. Selanjutnya semua hasil observasi ini dievaluasi untuk mengetahui ketepatan prosedur pelaksanaan tindakan atau kebermaknaan tindakan. Hasil observasi dievaluasi dan direfleksikan.
2. Teknik Tes
Teknik tes digunakan penulis dalam upaya mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita
E. Intrumen Pengumpulan
Data
Observasi
Observasi merupakan upaya merekam segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan berlangsung. Dengan atau tanpa alat bantu. Merekam dalam arti mengamati kegitan yaitu melihat, mendengar dan mencatat segala sesuatu yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Observasi ini dilakukan untuk memperoleh dat mengenai aktifitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi terhadap aktifitas guru meliputi :
1. Kemampuan Membuka Pelajaran.
2. Kemampuan Mengkondisikan Kelas.
3. Penggunaan Media Pembelajaran.
4. Penggunaan Teknik Pembelajaran.
5. Penggunaan Penilaan.
F. Analisis Data
Untuk mengetahuai aktifitas penggunaan pendekatan kontektuan bermedode simulasi dalam penyelesaian soal cerita perlu dilakukan analisis data. Pda penelitian tindakan kelas ini digunakan analisis deskrifsi kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan
G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan siswa dalam mencapai target pembelajaran dengan berstandar pada KKM sekolah yang telah ditetapkan. Apabila nilai rata-rata siswa mendapat nilai kurang dari KKM yang telah ditetapkan maka pembelajaran belum berhasil. dan perlu adanya perbaiakan pada materi tersebut. Hasil belajar siswa dikatakan berhasil apabila nilai yang diperoleh siswa sama atau melebihi standar KKM yang telah tetapkan.
H. Tim Kolaburasi
1. Peneliti
a. Nama : Jumari
b. Pangkat/Golongan : Pembina/IV a
c. Jabatan : Guru Kelas VI
d. Alamat : Desa Cikeduk Depok Kab. Cirebon.
2. Teman Sejawat
a. Nama : Bunawi
b. Pangkat/Golongan : Pembina/IV a
c. Jabatan : Guru Kelas V
d. Alamat : Karyamulya Kalitanjung Kesambi Cirebon
I. Jadwal Kegiatan
No. Jenis Kegiatan Bulan
Oktober Nopember Desember Januari
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Persiapan Penelitian
2. Penyusunan Proposal
3. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Siklus I dan II
4. Penyusunan Laporan
5. Revisi Laporan
6. Pengajuan Laporan
DAFTAR PUSTAKA
Darhim,dkk 1993. Pendidikan Matematika 2 Jakarta : Universitas Terbuka
Depdikbud,1993. Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar Kelas III Jakarta :
Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kasbolah, 1998. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Depdikbud.
Pakasi, Suprtinah, 1970.Didaktik Berhitung, Jakarta : Bathara.
Ruseffendi, dkk. 1993. Pendidikan Matematika 3, Jakarta : Universitas Terbuka.
Tim Pengembang PGSD, 1996/1998. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Depdikbud
Direktorat PLP. 2002. Pendekatan Kontekstual (contextual teaching and learning). Jakarta: Depdiknas.
Nur, M., & Wikandari, P. R. 1998. Pendekatan-pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran. Program Pasca Sarjana IKIP Surabaya.
Slavin, R. E. 1995. Cooperative learning, theory, research, and practice. USA: Allyn & Bacon.
Depdikbud, 1989. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Balai Pustaka.
Nurhadi, 2003. Pendekatan Kontekstual (CTL). Jakarta : Rineka Cipta.
Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
Rochiati Wiriaatmadja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Slamento, 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mem
Kamis, 15 Desember 2011
Langganan:
Komentar (Atom)